Mengapa 1 Syawal berbeda ?

Sebagai umat islam kita sering dihadapkan dengan perbedaan dalam hal tatacara beribadah,baik ibadah fardhu ataupun ibadah-ibadah sunah,hal ini akan terus terjadi dan tak bisa kita hindari,namun yang terbaik adalah bagaimana kita menyikapi hal ini dengan bijak dan tidak menonjolkan ego masing-masing kelompok baik secara organisasi maupun individu yang berkepentingan dengan umat secara langsung sebab umat kebanyakan (awam) akan dibuat bingung dan penuh dengan tanya dan pertanyaannyapun bervariasi,dari mulai yang wajar atau biasa-biasa saja hingga yang membuat tercengang bahkan merugikan umat itu sendiri. misalnya :


1. Ikut pendapat yang mana ya ?


2. Yang bener yang mana sih ?


3. Beda sih gak apa-apa tapi kok pada saling mengecam ?


4. Mengapa 1 Syawal berbeda sih ?


Disinilah kelemahan para pemimpin umat yang tidak menjadi teladan untuk umat kebanyakan ( awam ),seharusnya berilah penjelasan yang menyentuh dan meredam timbulnya pertanyaan umat yang awam hingga mampu mendidik untuk menyikapi perbedaan dengan senyuman.


Sebuah hadits :


Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal)dan berbuka(tidak berpuasa)karena melihatnya pula.dan jika awan(mendung)menutupi kalian,maka sempurnakanlah hitungan bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari ( Bukhari Muslim)


dalam hadits diatas sebagai rujukan cara menentukan mulai atau berakhirnya bulan ramadhan yang tentunya berawalnya bulan syawal dengan metode ru’yah ( ru’yatul hilal) melihat hilal, ada pula yang menggunakan metode hisab ( perhitungan) keduanya bisa digunakan sebagai rujukan tata cara mengetahui dan menentukan datang dan berahirnya bulan ramadhan.


Secara sederhana sebenarnya sudah bisa kita ambil kalimat “”maka sempurnakanlah hitungan bulan sya’ban menjadi tiga puluh hari”" ini sudah sangatlah jelas untuk menghilangkan keraguan dalam melihat hilal tentu kita bisa ambil yang pasti untuk menggenapkan 30 hari.


Dalam hal ini yang paling utama adalah penjelasan para pemimpin baik yang menggunakan metoda ru’yat ataupun hisab sebaiknya menjelaskan dengan saling menghargai pendapat yang lain guna mendidik umat yang awam bisa memilih dengan senyuman.


mengapa terjadi pertanyaan dari kalangan umat..? tentunya kurangnya penjelasan secara legewo para pemimpin dan enggan mengungkapkan kalimat penyejuk.padahal umat hanya cukup dengan kalimat yang menyejukan dengan saling menghargai pendapat pemimpin umat yang lain dan tidak memberikan sikap arogan yang akan membuat semakin bingung umat.berilah contoh yang baik buat umat sebab perbedaan seperti ini tentu akan selalu terjadi baik dalam hal ini ataupun ibadah yang lainnya.


 


 


………………….


ov syihab


___________



Memanfaatkan Ilmu atau Mengamalkan...?


Pertanyaan...????


**** Memanfaatkan ilmu atau mengamalkan ilmu ?


#### Owwh...tentunya memanfaatkan dalam gelap untuk penerang...Dan mengamalkan untuk     menerangi yang masih gelap....


**** Owwh...itumah semua orang juga faham....


#### Baiklah...bagaimana kalau yang tidak mengamalkan namun mengamankan juga memanfaatkan...?


Misal : seseorang sebagai ahli dalam suatu bidang karena keilmuannya yang menjadikan dia seorang ahli,namun ahli juga dalam menutup rapat ilmunya tetapi bagi dia sangat bermanfaat  untuk mata pencaharian,sebab pola fikirnya “” jika orang lain tau tatacara dan lain sebagainya bisa-bisa punya saingan dan omzet menurun “”.


Walau hidup itu memang persaingan dan kompetisi baik berlomba-lomba dalam kebaikan atau berlomba-lomba menumpuk amal baik untuk bekal kelak di akhirat,namun hal seperti ini terkadang sering kita jumpai dalam kehidupan disekitar kita.


#### Mana **** ?


#### Loh kok diajak diskusi malah pergi....ya sudahlah... baru nulis sedikit gak apa2...sedikit asal manfaat kale...sebab Allah suka dengan amalan bukan banyaknya tapi kekalnya meskipun sedikit...


 


....................


Ov Sy_ihab


----------------